WS Rendra dan Mbah Surip. Selamat Jalan


SELAMAT JALAN

MAS RENDRA,

SI BURUNG MERAK...


TERBANGLAH....

MENUJU SARANG SEJATI,

SARANG KEABADIAN...


DIMANA ENGKAU...
TAKKAN LAGI KEPANASAN


..................................................







SELAMAT JALAN MBAH SURIP

SEMOGA ENGKAU

MERASAKAN KEDAMAIAN

DALAM TIDURMU

DALAM GENDONGAN

SANG PENCIPTA KOPI SEJATI


Foto:
WS. Rendra - Republika - 7 Agt'09
Mbah Surip - Suara Merdeka - 06 Agt'09

------

Puisi Ws. Rendra:

Sajak Orang Kepanasan *)

Karena kami makan akar
dan terigu menumpuk di gudangmu
Karena kami hidup berimpitan
dan ruangmu berlebihan
maka kami bukan sekutu

Karena kami kucel
dan kamu gemerlapan
Karena kami sumpek
dan kamu mengunci pintu
maka kami mencurigaimu

Karena kami telantar di jalanan
dan kamu memiliki semua keteduhan
Karena kami kebanjiran
dan kamu berpesta di kapal pesiar
maka kami tidak menyukaimu

Karena kami dibungkam
dan kamu nyerocos bicara
Karena kami diancam
dan kamu memaksakan kekuasaan
maka kami bilang TIDAK kepadamu

Karena kami tidak boleh memilih
dan kamu bebas berencana
Karena kami semua bersandal
dan kamu bebas mamakai senapan
Karena kami harus sopan
dan kamu punya penjara
maka TIDAK dan TIDAK kepadamu

Karena kami arus kali
dan kamu batu tanpa hati
maka air akan mengikis batu

UI Salemba, 01 Desember 1979

*) Diambil dari Buku "Politik, Negara, & Kekuasaan" (Jakarta Forum, Depot Kreasi Jurnalistik)

----------

Sajak Bulan Mei 1998 di Indonesia **)

Aku tulis saja ini di bulan gelap raja-raja
Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan raya
Amarah merajalela tanpa alamat
Kelakuan muncul dari sampah kehidupan
Pikiran kusut membentur simpul-simpul sejarah

O, zaman edan!
O, malam kelam pikiran insan!
Koyak moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan
Kitab undang-undang tergeletak di selokan
Kepastian hidup terhuyung-huyung dalam comberan

O, tatawarna fatamorgana kekuasaan!
O, sihir berkilauan dari mahkota raja-raja!
Dari sejak zaman Ibrahim dan Musa
Allah selalu mengingatkan
bahwa hukum harus lebih tinggi
dari ketinggian para politisi, raja-raja, dan tentara

O, kebingungan yg muncul dari kabut ketakutan!
O, rasa putus asa yg terbentur sangkur!
Berhentilah mencari Ratu Adil!
Ratu Adil itu tidak ada, Ratu Adil itu tipu daya!
Apa yang harus kita tegakkan bersama
adalah Hukum Adil
Hukum Adil adalah bintang pedoman di dalam prahara

Bau amyir darah yg kini memenuhi udara
menjadi saksi yg akan berkata:
Apabila pemerintah sudah menjarah Daulat Rakyat
apabila cukong-cukong sudah menjarah ekonomi bangsa
apabila aparat keamanan sudah menjarah keamanan
maka rakyat yg tertakan akan mencontoh penguasa
lalu menjadi penjarah di pasar dan jalan raya

Wahai, penguasa dunia yg fana!
Wahai, jiwa yg terenung sihir tahta!
Apakah masih buta dan tuli di dalam hati?
Apakah masih akan menipu diri sendiri?
Apabila saran akal sehat kamu remehkan
berarti pintu untuk pikiran-pikiran kalap
yg muncul dari sudut-sudut gelap
telah kamu bukakan!

Cadar kabut duka cita menutup wajah Ibu Pertiwi
Airmata mengalir dari sajakku ini.

**) Sajak ini dibuat di Jakarta pada tanggal 17 Mei 1998 dan
dibacakan Rendra di DPR pada tgl 18 Mei 1998

Sumber: Kompas, 8 Agustus 2009

1 comment:

......... said...

sepertinya jagonulis juga ya..??

Artikel Menarik Lainnya:

PARIWARA: Outbound Training